BANJARMASIN,Teladankalimantan.com-Ketua Kamar Dagang dan Industri Kalimantan Selatan (Kadin Kalsel) Shinta Laksmi Dewi menegaskan, Kadin bukan hanya wadah konsolidasi pengusaha, melainkan juga pusat gagasan yang berorientasi pada solusi ekonomi kerakyatan berbasis kolaborasi lintas sektor.
“Hari ini kita melaksanakan amanat daripada Undang-Undang Kadin dan Anggaran Dasar Kadin melalui Rapat Pimpinan Provinsi III 2025. Kami mereview program kerja yang telah berjalan dan merancang arah baru ke depan. Tema yang kita pilih sangat relevan, karena private sector adalah penggerak pertumbuhan ekonomi, mendukung pembangunan daerah, dan meningkatkan daya saing Banua,” ujar Shinta, pada Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) III Tahun 2025, di Banjarmasin, Senin (17/11/2025).
Menurut dia, kolaborasi dunia usaha perlu diperkuat melalui partisipasi aktif berbagai profesi dan asosiasi yang tergabung di bawah OKP Kadin. Tidak hanya bidang perdagangan, tetapi juga sektor pertanian, peternakan, industri kecil dan UMKM.
Kerja sama itu, harap dia, mampu menghadirkan dampak nyata bagi daerah, mulai dari ketahanan pangan, inovasi produk lokal hingga ekspansi ke pasar internasional.
Selain kegiatan internal, sebut dia, Rapimprov tersebut juga memaparkan kelanjutan dari sejumlah kerja sama luar negeri yang telah dijalin Kadin Kalsel. Salah satunya adalah penandatanganan MOU dengan Malaysian International Chamber of Commerce (Sabah Chapter) yang dilakukan bersama Dato’ Susan pada akhir Oktober lalu. Kerja sama ini membuka akses lebih luas bagi UMKM Kalsel untuk saling bertukar produk unggulan.
“Kenapa kerja sama ini penting? Ternyata produk kita dan mereka punya kesamaan, seperti sambal ikan bilis, ikan saluang, hingga batik. Kami melihat ada peluang besar, karena kesamaan produk itu membuka jalan bagi pertukaran usaha dan peningkatan ekspor UMKM kita,” jelas Shinta.
Dalam kesempatan tersebut, Shinta juga menyinggung prestise batik dan sagara sasirangan yang terbukti tetap unggul meski mendapat tantangan dari produk tekstil cetak luar negeri.
Dia menilai, kekhasan budaya lokal dan proses produksi yang autentik justru menjadi nilai tambah wastra Kalsel di mata pasar internasional.
“Batik dan Sasirangan kita memiliki karakter dengan proses berbeda serta lebih kaya daripada batik printing diproduksi di luar. Ini menjadi bukti bahwa produk lokal punya kesempatan besar untuk tetap leading, apalagi jika kita fokus pada desain modern yang diminati anak muda,” ungkapnya dengan optimis.
lebih lanjut dia mengemukakan, Kadin Kalsel akan menindaklanjuti hasil Rapimprov dengan merumuskan program kerja lebih proaktif, berbasis kebutuhan daerah dan tuntutan global.
“Kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah daerah diharapkan dapat membawa Kalsel pada era ketahanan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” demikian tutupnya.
Kepengurusan Kadin Kalsel 2022–2027 menggelar Rapimprov III Tahun 2025 sebagai tindak lanjut amanat Undang-Undang dan Anggaran Dasar Kadin untuk penguatan kelembagaan dan agenda kerja organisasi.
Rapimprov mengusung tema “Strategi & Peran Private Sector dalam Meningkatkan Ekonomi untuk Kesejahteraan yang Lebih Maju dan Berdaya Saing,” menjadi momentum strategis bagi Kadin untuk meninjau kembali program kerja tahun 2025 dan merancang agenda 2026–2027.
Dengan digelarnya Rapimprov III Tahun 2025 menegaskan pentingnya peran sektor swasta sebagai motor ekonomi yang komplementer bagi pemerintah daerah.(red/MC Kalsel/scw)















