BANJARBARU,teladankalimantan.com-
Di tengah ancaman krisis pangan global dan marginalisasi kelompok rentan, sekelompok perempuan lanjut usia (lansia) di Kelurahan Syamsudin Noor, Kota Banjarbaru menulis kisah inspiratif tentang ketahanan pangan dari pekarangan rumah mereka.
Melalui Gerakan Pangan Perempuan Banjar, mereka membuktikan kedaulatan pangan bisa dimulai dari ruang mikro melalui tangan-tangan selama ini dianggap tak berdaya.
Gerakan digawangi Kelompok Wanita Tani (KWT) Kasturi dan Posyandu Mawar didukung PT Pertamina Patra Niaga AFT Syamsudin Noor.
Mereka tak sekadar menanam sayur atau meracik jamu, KWT Kasturi membangun ekosistem pangan berkelanjutan yang mengintegrasikan pertanian, UMKM, edukasi gizi hingga daur ulang limbah.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Region Kalimantan, Edi Mangun menjelaskan, gerakan itu adalah contoh nyata Creating Shared Value (CSV).
“Pekarangan adalah ruang mikro, tapi di sanalah perempuan Banjar mendefinisikan ulang kedaulatan pangan dari akar rumput,” ujarnya, dalam disiaran pers, Senin (14/07/2025).
Awal mulanya gerakan tersebut dari lahan pekarangan terbengkalai diubah menjadi kebun produktif dengan prinsip agroekologi, menanam sayuran dan tanaman obat keluarga (toga).
Hasil panen tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga menjadi bahan baku UMKM lokal, seperti jamu JASSER 33, kini dikenal sebagai produk unggulan.
Gerakan tersebutbunik karena memiliki rantai nilai terpadu mulai dari penanaman bahan pangan oleh KWT Kasturi (hulu), pengolahan produk oleh UMKM Posyandu Mawar (hilir), distribusi ke masyarakat (pemasaran) hingga pemanfaatan untuk edukasi gizi dan penanganan stunting.
Bahkan, limbahnya tak terbuang percuma. Melalui kemitraan dengan Bank Sampah Sumber Rezeki, botol bekas dan kemasan plastik didaur ulang menjadi kemasan produk atau furnitur kreatif.
Yang menarik, aktor utama gerakan ini adalah perempuan lansia yang sebelumnya sering termarginalkan.
Kini, mereka bukan lagi penerima bantuan, melainkan produsen, mentor, dan penggerak ekonomi lokal.
“Dulu kami hanya di rumah, sekarang bisa menghasilkan Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan dari kebun dan jamu,” tutur salah satu anggota KWT Kasturi.
Program tersebut telah menarik perhatian nasional. Kementerian Kesehatan RI bahkan melakukan kunjungan khusus untuk mempelajari model integrasi antara ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan.dan kesehatan masyarakat berbasis kearifan lokal.
Realisasi program menunjukkan keselarasan dengan TPB/SDGs, khususnya dalam aspek penghapusan kelaparan (SDG 2) berbasis pangan lokal, pemberdayaan kelompok perempuan (SDG 5) serta penerapan produksi konsumsi bertanggung jawab (SDG 12) melalui model ekonomi melingkar.
Lebih dari sekadar program CSR, Gerakan Pangan Perempuan Banjar adalah bukti kolaborasi bisnis-komunitas bisa menciptakan perubahan sistematis.
“Ini bukan sekadar urusan pangan, tapi juga tentang menghidupkan kembali filosofi Banjar, perempuan adalah penjaga nilai dan produsen kehidupan,” ucapnya.
Di tengah gempuran modernisasi, tangan-tangan renta di Syamsudin Noor mengajarkan satu hal, ketangguhan sejati tumbuh dari akar rumput.
Sebagai subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk menyalurkan energi kepada masyarakat secara optimal.(red/rilis pertamina)














