BANJARBARU,Teladankalimantan.com-Dalam rangka mendukung program kerja Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) Muhidin, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Kadisbunnak) Kalsel Suparmi menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen mendorong hilirisasi subsektor perkebunan guna meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.
Dia menyebutkan, Kalsel memiliki empat komoditas perkebunan unggulan berupa, kelapa sawit, karet, kopi dan kelapa dan dari keempat komoditas tersebut, hilirisasi paling berkembang saat ini adalah pada sektor kelapa sawit.
“Untuk hilirisasi kelapa sawit di Kalsel, saat ini sudah berjalan dengan adanya pabrik minyak goreng dan pabrik biodiesel. Bahkan pada tahun 2024–2025, Kalsel telah meluncurkan program biodiesel B50,” ujar Suparmi, di Banjarbaru, Senin (23/02/2026).
Kadisbunnak Kalsel menjelaskan, pengembangan biodiesel B50 menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan nilai tambah komoditas sawit sekaligus mendukung program energi terbarukan nasional. Dengan adanya fasilitas pengolahan di dalam daerah, dampak ekonomi diharapkan semakin dirasakan oleh masyarakat dan pelaku usaha di Kalimantan Selatan.
Sedangkan komoditas karet sebagai unggulan kedua, sebut dia, Disbunnak terus mendorong arah hilirisasi lebih luas karena selama ini produk karet daerah masih didominasi bahan olahan standar seperti LUM, SIR20 atau Brown Crepe.
“Kami berharap ke depan tidak hanya bergantung pada produk setengah jadi seperti LUM atau SIR20, tetapi dapat mendorong terbentuknya koperasi besar karet atau industri pengolahan lebih maju. Saat ini gagasan tersebut sedang dalam tahap penggodokan,” jelasnya.
Suparmi menegaskan, pengembangan industri hilir secara langsung bukan berada dalam ranah kewenangan Dinas Perkebunan dan Peternakan, namun pihaknya memiliki peran strategis dalam menjamin ketersediaan bahan baku.
“Ranah kami adalah memastikan produksi dan produktivitas tetap terjaga dan meningkat. Melalui program peremajaan karet dan intensifikasi karet, kami berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi karet di Kalsel,” ungkapnya.
Untuk program peremajaan, jelas dia, dilakukan untuk mengganti tanaman karet tua dan tidak produktif dengan bibit unggul, sementara intensifikasi difokuskan pada peningkatan teknik budidaya, pemeliharaan serta penguatan kapasitas petani.
“Langkah ini bertujuan memastikan pasokan bahan baku yang berkelanjutan guna mendukung pengembangan industri hilir karet di daerah,” terangnya.
Dengan strategi tersebut, tegas dia, Disbunnak Kalsel optimistis hilirisasi subsektor perkebunan akan semakin berkembang, memperkuat daya saing komoditas daerah serta memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Kalsel.(red/MC Kalsel/scw)














