MARABAHAN,teladankalimantan.com-
Tim Percepatan Penurunan Stunting Barito Kuala (TPPS Batola) menarget cakupan pengukuran dan penimbangan Balita di Kabupaten Batola diangka 95 persen.
“Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut serta membantu proses sweeping ini,” ungkap Ketua TPPS Batola, Zulkipli Yadi Noor, dalam siaran pers, Jum’at 05/07/2024).
Menurut dua, pengukuran dan penimbangan dilakukan pada anak untuk memantau perkembangan dan pertumbuhan.
“Upaya tersebut merupakan salah satu strategi pemerintah untuk melihat prevalensi stunting,” ungkapnya.
Seperti, terang dia, penginputan data anak menggunakan Aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis masyarakat (E-PPGBM) oleh Pemkab Batola.
“Permasalahan yang banyak ditemui di lapangan yakni, orangtua enggan datang ke Posyandu,” terangnya.
Ada yang dilarang suami, jelas dia , ada juga karena anak dipelihara oleh neneknya.
Selain itu, sambung dia , karena pertimbangan jarak dan berbagai alasan orangtua tidak membawa anaknya ke Posyandu.
Dari 11 desa dan 6 RT pelaksanaan sweeping, dia bersyukur, mendapatkan respon baik dari orangtua Balita.
Intervensi penurunan dan pencegahan stunting oleh Pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Pemkab Batola) semakin serius ditindaklunjuti oleh Ketua Tim TPPS Batola Zulkipli Yadi Noor.
Terbukti, Rabu (03/07/2024) Satgas TPPS Batola turun serentak ke sembilan kecamatan yang angka capaian penimbangan dan pengukurannya masih dibawah 95 persen.
Di Kecamatan Tabukan, Desa Karya Makmur, satu dari sembilan kecamatan melaksanakan intervensi serentak.
Acara tersebut dihadiri langsung Zulkipli Yadi Noor untuk memantau proses penimbangan dan pengukuran Balita.
Pada kegiatan itu, Zulkipli Yadi Noor didampingi Camat Tabukan, Kapolsek, anggota TNI, Kepala Puskesmas, Kades dan tim Satgas Kabupaten men-sweeping langsung door to door.(red/ril)














