MARABAHAN,teladankalimantan.com- Pembuat (jukung) perahu tradisional di Desa Pulau Sewangi, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Batola) merasakan mulai sepinya pemesanan maupun pembeli perahu mereka.
“Saya berusaha dalam pembuatan perahu tradisional ini sudah 25 tahun,” ujar Sarwani, salah satu pembuat perahu tradisional Desa Pulau Sewangi, Kecsmatan Alalak, ketika ditemui, Rabu (15/05/2024).
Menurut dia, pembuatan perahu tradisional di desa mereka dari generasi ke generasi atau turun temurun.
“Rata-rata kami membuat jukung (perahu tradisional) panjangnya antara empat depa sampai enam depa,” ungkapnya.
Ditambahkannya, panjang jukung (perahu tradisional) mereka bikin panjangnya sampai tujuh hingga delapan depa.
“Karena bahan baku kurang saat ini, maka kami buat hanya empat sampa enam depa saja,” terangnya.
Untuk harga jual, jelas dia, sangat tergantung dari bahan atau jenis kayu digunakan dan modelnya.
“Kalo bahannya bagus harga jualnya sekitar Rp 20 juta per buah atau lebih,” tandasnya.
Lebih lanjut dia mengemukakan, untuk mengerjakan jukung (perahu tradisiobal) panjang enam depa memakan waktu satu bulan.
“Rata-rata satu orang membuat jukung (perahu tradisiobal) dalam satu bulannya,” paparnya.
Untuk mendapatkan bahan baku, sambung dia, khususnya bagian dasarnya atau bagian bawahnya dari provinsi tetangga, Kalimantan Tengah (Kalteng).
Sedangkan bahan lainnya, tambahnya, didapat di bansaw sekitaran Alalak, Banjarmasin.
“Bahan baku dari Alalak juga berasal dari Kalteng juga,” ucapnya.
Kemudian, tambahnya lagi, pemesan atau pembeli kebanyak berasal dari daerah ilir atau laut eeperti, Batakan, Takisung, Taboneo.
“Sedangka jukung jukung (perahu tradisiobal) kecil-kecil dengan panjang lima depa pembelinya berasal dari Tahunganen,” tegasnya.
Ditambahkannya, untuk saat ini dalam satu bulan jukung (perahu tradisional) buatan mereka belum tentu bisa laku.
“Saat ini pemasarannya sulit dan pembelinya bisa berhutang. Jadi disitu permasalahan kita hadapi saat ini,” demikian tutupnya.

Sementara, pengrajin pembuat jukung (perahu tradidional) lainnya, Imis juga mengakui, kalau saat ini untuk memasarkan jukung (perahu tradidional) cukup sulit.
Untuk itu, dia meminta, kepada Pemkab Batola ada jalan keluar mencarikan pemasarannya
(red)














