MARABAHAN, teladankalimantan.com–Sei Gampa, sebuah desa di Kecamatan Rantau Badauh, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan ternyata memiliki potensi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang patut dilirik. Pasalnya, kampung yang persis berada di pinggir Sungai Barito tersebut penduduknya rata-rata berprofesi sebagai pembuat kerupuk singkong yang terkenal hingga ke provinsi tetangga.
Tak heran, saat memasuki kampung ini, di halaman rumah warga terhampar terpal atau tikar untuk menjemur bahan baku kerupuk-kerupuk singkong yang siap diolah.
Bukan hanya itu, setiap keluarga yang berprofesi sebagai pembuat kerupuk singkong ini tampak sibuk beraktivitas mengolah kerupuk singkong mulai dari mengiris dengan mesin hingga menjemur kerupuk.


Dengan mesin yang sederhana, namun manfaatnya cukup besar, pekerjaan mengiris kerupuk singkong hingga sesuai ukuran menjadi sangat mudah.
Proses pembuatan kerupuk singkong membutuhkan waktu sekitar satu minggu mulai dari pengolahan bahan baku berupa singkong hingga dikemas dan siap untuk dipasarkan.
Salah satu proses pembuatan kerupuk singkong yakni mengiris bahan baku singkong berbentuk bundar yang diiris tipis-tipis.
Setelah proses pengirisan selesai, kerupuk selanjutnya dijemur di halaman rumah. Penjemuran bisa berlangsung selama satu hari di bawah terik matahari. Kerupuk yang sudah dijemur kemudian siap untuk digoreng dan kemudian dikemas dalam bungkusan plastik besar.
Aspianor, selaku Pembina kelompok usaha kerupuk singkong Sei Gampa mengatakan, usaha pembuatan kerupuk singkong di Sei Gampa ini merupakan usaha turun temurun sejak dulu yang diwariskan oleh para orangtua mereka. “Ada sekitar 50 warga yang berprofesi sebagai pembuat kerupuk singkong,” kata Aspiannor, Sabtu (24/2).

Menurut Aspianor, kerupuk ini dipasarkan hingga ke Kalimantan Timur seperti Samarinda, dan Kalimantan Tengah seperti, Palangka Raya, Sampit, dan Pangkalan Bun. Dan hasil penjualannya lumayan untuk membantu meningkatkan pendapatan warga di Sei Gampa.
Selaku pembina UMKM kerupuk singkong di Sei Gampa sejak tahun 1995, Aspianoor berharap ada bantuan pemerintah baik modal, peralatan mesin pengolahan, pengemasan kerupuk serta hak merek. (red)














