MARABAHAN,teladankalimantan.com-
Bagi Hamdatul Aisyah, warga RT 13 Kelurahan Lepasan, Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala (Batola) usaha pembuatan Krupuk Ikan Cap Jembatan Rumpiang sudah ditekuninya sejak Tahun 2007.
Berawal dari produk Krupuk Pipih merupakan usaha turun temurun dari nenek hingga anak dan cucu, ternyata mendapat tanggapan positif oleh para konsumen, khususnya di wilayah Kabupaten Batola.
“Usaha pembuatan Krupuk Ikan ini sudah memasuki generasi ketiga,” ujar Hamdatul Aisyah, ketika ditemui, Jum’at (12/07/2024).
Dari perjalanan waktu, ungkap dia, usahanya mulai berkembang, sehingga produk krupuknya juga bertambah dengan Ikan Sanggang dan Ikan Puyau.
“KrupukIkan Sanggang dsn Ikan Puyau kita coba-coba bikin, ternyata mendapat sambutan cukup baik dari konsumen,” ungkapnya.
Namun dalam 10 Tahun terakhir, papar dia, ada pengusaha krupuk dari Jawa mengajarkan membuat Krupuk Nasi.
“Cuma kalau produk Krupuk Nasi diajarkan itu dari nasi bekas,” tandasnya.
Melihat hal itu, sambung dia, pihaknya punya ide supaya nasi bekas tersebut diganti dengan masak sendiri dengan berbahan beras lokal.
Sedangkan produk Kripik Pipih, tambah dia, sementara tidak diproduksi lagi karena adanya peraturan dari pemerintah pusat tidak membolehkan lagi
“Pelarangan menggunakan Ikan Pipih itu sejak tahun kemarin. Namun, sosialisasinya baru dua bulan ini,” tegasnya.
Lebih lanjut ibu empat anak ini mengemukakan, pemasaran krupuk mereka tidak saja dikenal di wilayah Kalimantan saja, namun sudah dikenal hingga ke Pulau Jawa.
“Dengan pemasaran sistem online produk kita sudah sampai ke Pulau Jawa, sehingga tidak sebatas di Kalimantan saja,” tandasnya.
Dari pengembangan usaha tersebut, tambah dia, yang paling laris dijual Krupuk Nasi sebab harga murah .
“Kalau sebulannya produksi Krupuk Nasi sekitar 2.000 bungkus. Untuk satu bungkus isi 200 gram dengan harga Rp9.000.
Kemudian, tambahnya lagi, selain itu, Krupuk Haruan atau Gabus juga diminati konsumen.
“Harga Krupuk Hafuan Rp25 ribu per 200 gram, Krupuk Puyau Rp20 ribu per 200 gram dan Krupuk Sanggang Rp25 ribu per 200 gram,” terangnya.
Dari kegiatan usaha tersebut, tuturnya, mereka mampu merekrut empat orang karyawan harian.(red)

Terkendala Modal dan Jalan Rusak
Dalam menjalankan usaha krupuk bagi Hamdatul Aisyah, tidak mulus begitu saja, namun masih ada kendala dihadapinya.
Salah satunya, ungkap Hamdatul adalah, dari segi permodalan. Terutama modal untuk membikin bangunan, membeli bahan-bahan penunjang produksi krupuk.
Sedangkan kendala lainnya, sebut dia, jalan menuju ke tempat produksi krupuknya belum begitu mulus.
“Jalan menuju kesini banyak yang rusak. Otomatis orang yang ke tempat produksi krupuk jadi malas dan tidak jadi berkunjung,” jelasnya.
Dia berharap, dari usahanya tersebut ada kepedulian pemerintah maupun pihak lainnya membantu bangunan, peralatan, permodalan dan jalan menuju rumah produksi krupuk Cap Jembatan Rumpiang.(red)














