MARABAHAN, teladankalimantan.com–Sesekali jari jemari tangannya yang sudah renta terlihat membuka bungkusan kue tradisional saat istrahat menumbuk kapur kulit kerang sebagai penganjal perut di waktu bekerja.
Di usianya yang sudah renta, nenek Mariah, warga RT 04, Desa Pulau Sugara, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan ini harus bekerja untuk bertahan hidup dengan mengambil upah mengolah kapur kulit kerang yang berlokasi di Desa Pulau Sugara.
Hampir belasan tahun, Nenek Mariah menjalani pekerjaan sebagai pengolah kapur kulit kerang, sebab siapa lagi yang bisa diandalkan.
“Sudah lawas begawi di sini, sampai umur tuha masih bertahan, dan mau kada mau untuk biaya hidup sehari-hari, (sudah lama bekerja di sini, dan mau tak mau untuk biaya hidup sehari-hari,” kata Nenek Mariah saat ditemui di lokasi usaha pembuatan kapur kulit kerang, Kamis (22/2/2024).

Diketahui, usaha turun temurun yang dilakoni oleh H Kadir dan keluarganya ini memang memerlukan keahlian, sehingga re-generasi usaha pengolahan kapur kulit kerang saat ini masih belum maksimal, dan hanya dilakukan oleh orang-orang tua se usia nenek Mariah atau beda beberapa tahun di bawahnya.
Nenek Mariah yang kini usianya sekitar 76 an tahun masih terlihat bersemangat saat mengolah kapur kulit kerang. Dengan peralatan sederhana seperti alu, tangannya menumbuk kapur yang masih kering sampai menjadi lumer atau kental.
Hasilnya lumayan bisa untuk kebutuhan hidup sehari-hari yakni dengan mengambil upah sebesar Rp 11 ribu per belek. Dan dalam sehari, nenek yang tinggal bersama anaknya ini rata-rata bisa mengumpulkan tiga belek dalam sehari.
Haji Kadir, pemilik usaha pembuatan kapur kulit kerang mengakui, rata-rata pekerja yang membuat kapur kulit kerang usianya tak lagi muda, dan kebanyakan janda yang ditinggal mati suaminya.
Sebagai sesama warga Desa Pulau Sugara, ada rasa kepedulian, terlebih mereka tidak memiliki pendapatan yang pasti. Selain itu mereka juga jarang mendapatkan bantuan-bantuan sosial dari pemerintah.

Dengan memberdayakan wanita-wanita lansia tersebut, dan hanya mereka yang memiliki keahlian dalam mengolah kapur kulit kerang, otomatis sedikit banyak bisa membantu pemasukan untuk keluarga.
“Ada yang belasan tahun bekerja sebagai pengolah kapur kulit kerang, dan hasilnya lumayan, seperti nenek Mariah ini, sidin (beliau) bisa mengumpulkan tiga belek sehari atau mengumpulkan uang sebesar 35 ribu sehari, sehingga cukup untuk makan,” ucapnya.
Dirinya berharap dengan usaha yang dilakoni ini bisa membantu sesama warga serta memberikan manfaat untuk masyarakat banyak. (red)














