BANJARMASIN,teladankakimantan.com-
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kalimantan Selatan (Kanwil DJPb Kalsel), Syafriadi menyebutkan, hingga Maret 2025 realisasi belanja negara di Kalimantan Selatan mencapai Rp8,54 triliun atau 22,57 persen dari total pagu anggaran.
Rinciannya, terang dia, Belanja Pemerintah Pusat mencapai Rp1,53 triliun, sedangkan Transfer ke Daerah (TKD) tercatat Rp7,01 triliun.
Di tengah upaya efisiensi dan ketatnya ruang fiskal nasional, sebut dia, realisasi tersebut mencerminkan kinerja anggaran yang baik.
Pemerintah terus memastikan, ucap dia, dana tersedia dapat segera digunakan untuk program prioritas sejak awal tahun, seperti pembangunan infrastruktur, layanan dasar dan dukungan sosial.
“APBN tetap menjadi instrumen utama menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi daerah. Meskipun tekanan ekonomi global masih berlangsung, kita tetap optimis dan adaptif,” ujarnya, dalsm siaran pers, Kamis (22/05/2025).
Sementara, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalsel, Fadjar Majardi menyampaikan, pada triwulan I 2025, perekonomian Kalsel tetap tumbuh solid sebesar 4,81 persen (yoy) ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.
“Perkembangan ke depan akan tetap positif dan akan mendukung pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan sepanjang 2025. Diperkirakan mencapai kisaran 4,5 persen hingga 5,3 persen,” ujar Fadjar Majardi.
Menurut dia, inflasi daerah terkendali dan berada dalam kisaran sasaran nasional 2,5 persen±1 persen, sehingga dapat turut menopang daya beli masyarakat.
Dari sisi digitalisasi, sebut dia, transaksi ekonomi dan keuangan digital terus meningkat, seiring semakin luasnya penggunaan sistem pembayaran non-tunai seperti QRIS.
“Pertumbuhan volume dan nilai transaksi QRIS menunjukkan, masyarakat makin percaya dan nyaman bertransaksi secara digital. Namun di sisi lain, kami tetap mendorong inklusi tunai agar seluruh lapisan masyarakat terlayani,” imbuhnya.
Ditambahkan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalsel, Agus Maiyo, stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) di Kalimantan Selatan tetap terjaga meskipun volatilitas pasar global masih berlangsung.
“Perbankan di daerah mencatatkan kinerja positif: aset tumbuh 5,87 persen, kredit naik 11,38 persen, dan dana pihak ketiga meningkat 6,89 persen (yoy), dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) terjaga di angka 2,21persen,” katanya.
Selain itu, terang dia, sektor Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura dan Lembaga Keuangan Mikro juga tumbuh positif dengan profil risiko yang sehat.
Dari sisi perlindungan konsumen, tambah dia, OJK terus memperkuat literasi keuangan.
“Hingga April 2025, edukasi keuangan telah menjangkau lebih dari 3.290 orang dengan penyediaan 5.138 layanan SLIK dan 1.400 layanan APPK (Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen),” ungkapnya.
Kemudian, papar dia, OJK menekankan pentingnya proaktivitas lembaga jasa keuangan dalam melakukan asesmen risiko, guna memastikan ketahanan dan kontribusi sektor keuangan terhadap ekonomi daerah tetap optimal.(red/rilis)














