BANJARMASIN,teladankalimantan.com-
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Kuala (Kadinkes Batola), Sugimin berharap, meski puskesmas mendapatkan kapitasi dihitung per jiwa, namun tidak serta merta diambil sepenuhnya, tapi ada kinerja yang harus dipertanggungjawabkan.
Kinerja pertama, jelas Sugimin, banyaknya layanan diberikan oleh puskesmas, semakin banyak layanan diberikan, maka duit ditarik puskesmas semakin banyak.
“Yang kedua tentang rujukan. Kalau puskesmas hanya merujuk saja, artinya kinerja puskesmas jelek dan tidak ada ditangani akan mengurangi nilai,” ungkap Sugimin, di sela-sela Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan pembayaran Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) serta Rate Rujukan dan Skirining pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) digelar Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kabupaten Batola , di Hotel Rodhita Banjarmasin, Jum’at (17/01/2025).
Sedangkan kinerja ketiga, jelas dia, tentang bagaimana menangani orang dengan perlakuan khusus.
“Dari hasil rekap BPJS Kesehatan ada 10 puskesmas di Batola capaian layanan di Desember 2024 sudah100 persen. Jadi ada peningkatan,” terangnya.
Dijelaskannya, Dinkes Batola kemarin melakukan workshop khusus, bagaimana meningkatkan kapabilitas kepala puskesmas dalam menghadapi permasalahan tersebut.
“Ternyata berhasil, di bulan Januari dan Februari awal tahun puskesmas mencapai 100 persen hanya 22 persen, tapi begitu kita workshopkan naik jadi 61 persen puskesmas bisa mencapai 100 persen,” tegasnya.
Ada beberapa puskesmas selama satu tahun, papar dia, tidak pernah 100 persen dan ini merupakan sebuah kelemahan.
“Puskesmas hari ini kinerjanya jelek kita mintakan persentasi kenapa hal itu terjadi. Sedangkan puskesmas kinerjanya sangat baik kita mintakan juga persentasi , supaya mereka bisa berbagi trik dan strategi agar keberhasilan bisa ditiru puskesmas lain,” harapnya.
Lebih lanjut dia mengemukakan, pihaknya juga mendorong puskesmas untuk untuk memberikan layanan USG.
“BPJS memberikan layanan USG bagi pasien di puskesmas dan ini harus bisa dimanfaatkan agar pasien tidak lagi USG ke dokter praktek, tapi cukup di puskesmas karena alat digunakan sama dengan dokter praktek, ” pintanya.
Dia berharap, puskesmas pintar-pintar mencari pendapatan karena anggaran masih sedikit, kalau puskesmas tidak pintar-pintar mencari pendapatan, maka skan menjadi beban APBD.
Sementara, Kepala Cabang BPJS Kesehatan Batola, Heny mengungkapkan, materi diberikan pada kegiatan kali ini berupa raport puskesmas.
“Pada hari ini disampaikan kinerja mereka dan rate rujukan. Artinya jangan sampai pasien bisa ditangani di puskesmas dirujuk. Kalau memang penyakit itu bisa diobati di puskesmas obati dulu. Kalau memang harus ditangani dokter spesislis pengobatannya, maka silahkan dirujuk. Tapi kalau pasien datang hanya minta dirujuk, kami mohon itu untuk tidak dirujuk, ” tegas Heny.
Kemudian, sambung dia, pihaknya optimalkan puskesmas sebagai Gatekeeper supaya antrian di rumah sakit tidak terlalu banyak.
“Yang kedua, mengoptimalkan pelayanan yang ada di puskesmas. Kalau dia tuntas berobat di puskesmas cukup di puskesmas,” demikian tutupnya.(red)















