MARABAHAN, teladankalimantan.com—Panglima Wangkang, salah satu Pahlawan asal Kalimantan Selatan tepatnya dari Marabahan, Barito Kuala. Jejak-jejak perjuangannya dalam membela tanah air patut menjadi teladan bagi para generasi muda saat ini.
Sejarah perjuangannya kini hanya bisa dilihat dari situs budaya yang terpampang di makam Panglima Wangkang yang terletak di kompleks pemakaman jalan Panglima Wangkang, Kelurahan Marabahan, Kota Marabahan, Batola.
Sebagai pejuang, makamnya kini menjadi Cagar Budaya yang dilindungi UU RI nomor 11 tahun 2010.
Makam Panglima Wangkang terletak di komplek pemakaman berselebahan dengan makam-makam lainnya.
Namun sebagai seorang tokoh pahlawan yang disegani oleh penjajah Belanda, makam panglima Wangkang tampak mencolok dibanding makam-makam lainnya.


Makam tersebut berada di dalam bangunan seperti kubah berwarna kuning dan hijau.
Di dalamnya tampak sejumlah karpet serta kitab suci Alquran yang diperuntukan bagi para penziarah yang berkunjung ke makam tersebut.
Penjaga makam Hasanudin, Sabtu (24/2) mengatakan, Panglima Wangkang merupakan pejuang pada jaman penjajahan belanda. Beliau satu angkatan dengan Pangeran Antasari di Banjarmasin.
Dia salah satu sosok yang disegani Belanda selama perang Banjar, karena selain gigih, dia juga menerapkan siasat tak terduga.
Bergelar Kiai Mas Demang bin Pambakal Kendet, Panglima Wangkang adalah anak dari Pambakal Kendet, seorang pejuang dan pemimpin suku Bakumpai. Ibunya bernama Ulan, berasal dari Amuntai seorang suku Banjar.
Sebagai putra dari kalangan suku Bakumpai, Panglima Wangkang gigih mempertahankan Distrik Bakumpai (sekarang Barito Kuala).
Dihimpun dari berbagai sumber, Panglima Wangkang berkali-kali memimpin pasukan menyerbu benteng Belanda di Banjarmasin.
Meski selalu gagal karena tidak berimbangnya jumlah pasukan serta peralatan perang, namun Panglima Wangkang tidak menyerah.
Baru sekitar tahun1860, pasukan Wangkang berhasil memasuki benteng pertahanan Belanda di Banjarmasin.
Dalam serangan ini, puluhan tentara Belanda tewas. Karena dirasa sangat berbahaya, pimpinan Belanda pun berusaha menangkapnya.
Diumumkan, siapa saja yang mendapatkan Panglima Wangkang dalam keadaan hidup maupun sudah mati, akan mendapatkan hadiah uang banyak.
Dalam suasana pengejaran itu, Panglima Wangkang dikabarkan akan menyerahkan diri kepada Belanda.
Kabar ini merupakan berita gembira bagi Belanda. Disebutkan, pada September 1864, kabar ini pertama kali sampai ke telinga pejabat-pejabat Belanda di Banjarmasin. K.W. Tiedtke, Asisten Residen di Muara Montallat menyampaikan bahwa beberapa pemimpin perlawanan dari daerah-daerah Lahei dan Teweh bermaksud untuk menyerah.
Selain itu, Tiedtke juga menyampaikan bahwa Panglima Wangkang juga akan menyerah. Namun, Wangkang mengajukan persyaratan agar dirinya mendapat pengampunan dari pemerintah Belanda di Batavia atas aksi berontak dan balas dendamnya.
Hasil negosiasi dengan K.W. Tiedtke, Wangkang diijinkan tinggal di Marabahan sambil menunggu pemberian ampunan dari Gubernemen di Batavia.
Namun, selama masa tunggu enam bulan di Marabahan yang merupakan tempat kelahirannya itu, Wangkang mengonsolidasikan kekuatannya. Ia menghimpun kekuatan dari kaum kerabatnya, teman-temannya, dan pengikut-pengikutnya. Merasa kuat, pasukan Wangkang menyerang benteng Kween.
Pada tahun 1872, pasukan tentara Belanda yang baru didatangkan dari Batavia menyerang Benteng Mahang di Sungai Badandan, tempat pasukan Wangkang berlindung. Benteng Mahang diberondong tentara Belanda dengan meriam hingga hancur berantakan.
Pasukan Panglima Wangkang terpaksa lari ke hutan. Dalam pertempuran yang berlangsung hampir sehari penuh itu, Panglima Wangkang gugur.
Oleh pendampingnya yang setia, yakni Panglima Mahmud dan Panglima Odi, mayat Wangkang disembunyikan di bawah semak belukar. (red)














