BANJARMASIN,Teladankalimantan.com-Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) H Muhidin menyebutkan, tingginya inflasi di Kalsel dipengaruhi oleh komponen listrik dan emas.
“Penyumbang inflasi paling tinggi pertama listrik, kedua emas dan selebihnya komoditas lain,” ujar H Muhidin, pada pertemuan untuk membahas kondisi inflasi daerah tergolong tinggi secara nasional dan menindaklanjuti arahan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian langkah pengendalian inflasi bersama perwakilan Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Direktorat Jenderal Perbendaharaan serta jajaran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel), di Banjarmasin, Minggu (08/03/2026).
Menurut dia, untuk listrik secara nasional sebenarnya hampir sama karena tahun lalu ada program diskon listrik 50 persen, sehingga dalam perbandingan tahunan terlihat meningkat,” ujar H Muhidin.
Dia menambahkan, komoditas emas juga menjadi perhatian karena tingginya minat masyarakat Kalsel terhadap emas perhiasan.
“Di Kalsel daya beli masyarakat terhadap emas perhiasan cukup tinggi, bahkan inflasinya lebih tinggi dibandingkan nasional,” katanya.
Untuk itu, H Muhidin mengimbau, kepada masyarakat agar lebih mempertimbangkan jenis investasi emas yang dipilih.
H Muhidin juga menjelaskan, angka yoy, seandainya tidak ada diskon listrik pada Februari 2025 dan tanpa perubahan harga emas, inflasi di Kalsel diperkirakan hanya sebesar 1,87 persen.
Di sisi lain, jelas dia, kontribusi inflasi dari sektor pangan dinilai relatif kecil. Pemerintah daerah juga memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok menjelang Hari Raya Idulfitri dalam kondisi cukup.
“Untuk pangan relatif rendah. Stok bahan pokok di Kalsel juga cukup menjelang lebaran sehingga diharapkan harga tetap stabil,” kata Muhidin.
Gubernur juga menilai tingginya minat masyarakat membeli emas berkaitan dengan kondisi ekonomi daerah yang cukup baik.
“Perekonomian Kalsel cukup bagus dan berada di atas nasional, sehingga daya beli masyarakat meningkat, termasuk dalam membeli emas,” ujarnya.
Sementara, Kepala BPS Kalsel Mukhamad Mukhanif menyebutkan, komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi di Kalsel selain listrik dan emas antara lain beras, daging ayam ras serta sigaret kretek mesin.
Lebih lanjut dia mengemukakan, BPS juga mencatat bahwa harga emas perhiasan dalam setahun terakhir mengalami kenaikan hingga 78,99 persen, sehingga memberikan kontribusi besar terhadap inflasi di Kalsel.
Pemprov Kalsel bersama lembaga terkait akan terus berkoordinasi guna menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi di Kalsel.
Berdasarkan data BPS, inflasi Kalsel pada Februari 2026 tercatat 0,86 persen secara bulanan (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada diangka 0,68 persen.
Sementara secara tahunan (yoy), inflasi Kalsel mencapai 5,97 persen, juga lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 4,76 persen.(red/TAM Kalsel)














