MARABAHAN,Teladankalimantan.com-Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Barito Kuala (DPRD Batola) Harmuni mengungkapkan, pihaknya telah menerima aspirasi langsung dari warga yang terdampak krisis lingkungan berupa, fenomena kematian massal ikan yang melumpuhkan sektor perikanan lokal dalam sepekan terakhir.
“Tadi ada masyarakat datang ke sini, menyampaikan kerugian-kerugian dan meminta tolong agar ada bantuan dari pemerintah daerah atau dari pemerintah provinsi maupun pusat,” ujar Harmuni selepas menggelar pertemuan dengan dinas terkait untuk membahas penyebab kematian massal ikan budidaya warga di Sungai Barito.
Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batola Abdi Maulana menjelaskan kepada jajaran DPRD setempat, berdasarkan pemantauan rutin sebenarnya menunjukkan kondisi normal hingga akhir tahun 2025.
Namun, sebut dia, data terbaru dari sistem Online Monitoring (Onlimo) menunjukkan adanya parameter kualitas air yang melebihi ambang batas di wilayah hulu, seperti Tapin, Hulu Sungai Tengah dan Tabalong mengalir dan berdampak buruk ke wilayah Batola.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Barito Kuala (DPRD Batola) mengambil sikap tegas dengan mendesak dilakukannya kajian komprehensif guna mengungkap penyebab utama anjloknya kadar oksigen terlarut di Sungai Barito.
Langkah terebut menjadi desakan utama para wakil rakyat setelah menyaksikan fenomena kematian massal ikan yang melumpuhkan sektor perikanan lokal dalam sepekan terakhir.
Dalam rapat bersama komisi gabungan, Rabu (28/01/2026), DPRD Batola menyoroti drastisnya penurunan kadar Dissolved Oxygen (DO) menyentuh angka 1,25 mg/l, jauh di bawah standar baku mutu minimal 4 mg/l.
Kondisi darurat tersebut memicu keprihatinan mendalam dari jajaran legislatif karena berdampak langsung pada kelangsungan hidup masyarakat di pesisir sungai Barito.(red)














