Marabahan – Pada setiap malam Jumat, (4/12), halaman dan ruangan Rumah Jabatan Bupati Barito Kuala di Jalan Pangeran Antasari No. 1 dipenuhi cahaya lampu yang temaram dan lantunan syair penuh pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Tepat pukul 20.00 WITA, ratusan jamaah dari berbagai kecamatan mulai duduk bersila, bersiap memasuki suasana religius yang hangat: pembacaan Burdah rutin, sebuah tradisi yang kini menjadi ikon baru kehidupan religius masyarakat Batola.
Kegiatan ini merupakan inisiatif langsung dari Bupati Barito Kuala, DR H. Bahrul Ilmi, SH MH yang sekaligus menjadi tuan rumah. Setiap Kamis malam, tanpa terkecuali, beliau memimpin jamaah, didampingi Sekretaris Daerah H. Zulkipli Yadi Noor, M.Sc, para kepala SKPD, camat, lurah, hingga kepala desa. Yang membuat kegiatan ini istimewa, pintu rumah jabatan selalu terbuka lebar. Tidak ada batasan jabatan, semua masyarakat dipersilakan hadir.
Bupati Bahrul Ilmi menggambarkan Burdah rutin ini sebagai ikhtiar nyata untuk menghadirkan Batola yang lebih agamis, sejalan dengan tagline “Batola Satu: Sejahtera, Agamis, Terpadu, Unggul.”
Tradisi ini bukan hal baru bagi dirinya; jauh sebelum menjabat bupati, beliau telah mengamalkan pembacaan Burdah sebagai ritual pribadi.
“Kita ingin rumah jabatan ini bukan sekadar tempat kerja, tapi rumah bagi masyarakat. Burdahan ini menjadi ruang silaturahmi, tempat kita memulai keberkahan bersama setiap malam Jumat,” ujarnya.

Burdah yang dibacakan malam itu berisi sepuluh bab pujian tentang Rasulullah, kemuliaan Al-Qur’an, Isra Mi’raj, hingga munajat kepada Nabi Muhammad SAW. Lantunan qasidah yang merdu membuat suasana terasa syahdu. Para jamaah larut, beberapa bahkan meneteskan air mata, merasakan kelembutan syair yang menggetarkan hati.
Di antara ratusan jamaah, hadir Wahyu—seorang warga dari Alalak—yang terlihat khusyuk mengikuti alunan syair. Seusai kegiatan, ia menyampaikan kebanggaannya.
“Saya bangga punya bupati yang bukan hanya peduli, tapi benar-benar hadir dan mengurus langsung jalannya acara. Ini tanda bahwa keberkahan Batola dimulai dari pemimpin,” ucapnya dengan mata berbinar.
Keterbukaan rumah jabatan juga menjadi perhatian banyak peserta. Akhdiyat Sabari, Kepala Dinas PU Batola, menilai kegiatan Burdah rutin ini menghapus kesan eksklusif yang sering melekat pada rumah jabatan kepala daerah.
“Rumah jabatan menjadi tempat kita semua. Ini momentum luar biasa untuk menunjukkan bahwa pemimpin dan masyarakat berjalan bersama. Semoga kegiatan ini terus istiqomah dan membawa manfaat bagi rohani serta lingkungan,” ujarnya.
Malam itu, suasana Rujab terasa berbeda. Dari deretan SKPD hingga warga biasa, semua duduk dalam satu barisan tanpa sekat. Mereka menyatu dalam lantunan puji-pujian, membawa suasana damai yang jarang ditemui di tengah kesibukan harian.
Di ujung acara, jamaah saling bersalaman, beberapa berbincang hangat, dan sebagian lainnya tampak enggan beranjak karena masih menikmati nuansa kebersamaan yang tercipta.
Burdah rutin ini telah menjadi ruang baru bagi masyarakat Batola—ruang spiritual, ruang silaturahmi, dan ruang penyatu antara pemimpin dan rakyatnya. Tradisi yang sederhana, namun memberikan dampak besar bagi kehidupan sosial keagamaan di Barito Kuala. (ramadani)














