JAKARTA, teladankalimantan.com – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dari tiga tahun lalu akibat dampak fenomena el nino. BMKG menyebut puncak musim kering tahun ini diprediksi pada Agustus dan September.
Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab menyebut 63% wilayah di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut, kata Fachri, adalah dampak dari el nino.
“Ada beberapa wilayah yang memang kita prediksikan intensitas hujannya dalam kategori rendah, dari prakiraan hujan bulanan kita baik itu di Sumatera, itu sebagian besar Sumatera, baik Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, kemudian Jawa merata hampir seluruh Jawa itu, kategorinya warna coklat artinya hujannya rendah,” tutur dia.
Kondisi kering juga berpotensi terjadi di Bali, Nusa Tenggara Bara, Nusa Tenggara Timur. Kemudian di sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
“Kemudian di Bali, NTB, NTT juga sama. Kalimantan dari Kalimantan bagian barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara itu sama juga, dan Sulawesi utamanya di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, itu yang berpotensi terjadinya musim kering,” sebut dia.
Fachri menyebut puncak musim kemarau akan terjadi di bulan Agustus dan September. Namun, periode musim kemarau itu tidak sama di seluruh wilayah Indonesia.
“Kita perkirakan di bulan Agustus ini dan September, kalau dulu kita waktu sekolah sering tahunya kalau bulan ber-ber itu udah bulan hujan dan dari sisi spasialnya tidak sama seluruh wilayah Indonesia. Contoh di Maluku dan juga di beberapa sebagian Papua itu belum masuk musim kemarau. Dan memang lazimnya seperti itu,” tutur dia.
“Saat ini sudah 63% memasuki musim kemarau, diperkirakan musim kemarau kita akan lebih kering dibanding 3 tahun sebelumnya,” jelasnya. (red)














