MARABAHAN,teladankalimantan.com- Bagi Herman, warga RT 01 Desa Beringin Jaya, Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala (Batola) berbisnis beras lokal sudah dijalannya selama delapan tahun.
Dari usahanya tersebut, Herman mampu mempekerjakan 10 orang warga di desanya dan menyekolahkan anaknya hingga keperguruan tinggi.
Bahkan, pemasaran beras lokalnya tidak hanya di Kalimantan Selatan (Kalsel) saja, namun merambah sampai Kalimantan Tengah (Kalteng).
Dengan memiliki penggilingan padi milik sendiri, dia memulai usahanya mengumpulkan padi milik petani di desanya hingga ke Kabupaten Banjar dan Kabupaten Kapuas, Kalteng.
Dari hasil pengumpulan padi itu, dia memulai proses dengan penjemuran terlebih dulu agar benar- benar padi kering sebelum digiling dipabrik miliknya.
“Sebelum beras ini saya pasarkan ke desa ini dan ke Kalteng, terlebih dulu melalui beberapa proses, seperti mengumpulkan dulu padi dari para petani hingga proses penjemuran dan digiling,” ungkap pria dua anak ini.
Setelah padi digiling, sebut dia, lalu dimasukan ke dalam karung dengan berat sekitar 35 kilogram.
“Kalo beras sidah dimasukan ke dalam karung, berarti sudah siap dipasarkan,” terangnya.
Biasanya, lanjut dia, pembeli dari luar daerah langsung datang ke pabrik sekaligus gudang miliknya.
Selain itu, papar dia, pihaknya juga menjual ke para pedagang beras di desa mereka.
“Dalam satu bulan jumlah produksi beras dijual kepasaran sekitar 30 ton dengan harga satu karung antara Rp500 ribu hingga Rp 760 ribu,” tandasnya.
Harga tersebut, sambung dia, tergantung varietas beras lokalnya, mulai dari varietas mayang sampai beras besar,” tandasnya.(red)














