Tengah ramai terjadi pelecehan seksual di jaman sekarang, terutama korban merupakan seorang anak-anak yang masih berusia di bawah umur
Artikel: Tiara Audia, Mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Pelecehan seksual tersebut pun tidak hanya terjadi pada gender wanita yang berusia dewasa akan tetapi, bisa terjadi pada gender anak-anak perempuan bahkan, terjadi pada anak laki-laki. Meski kasus ini sedang marak terjadi dan banyak yang belum mengetahui akibatnya, dan banyak korban pelecehan seksual tersebut mengalami trauma berat. Perlu diketahui, kasus ini tidak hanya melukai fisik dari korban pelecehan tersebut akan tetapi, secara psikis dan emosional dari korban akan mengalami trauma berat. Berdasarkan data, dikutip dari laman KEMENPPA sebanyak 9.564 ribu kasus yang terjadi hingga saat ini, terjadi pada perempuan korban sebanyak 8.341 kasus dan terjadi pada korban laki-laki sebanyak 2.085. Oleh karena itu, penting untuk memahami dampak kekerasan seksual pada fisik dan psikis korbannya.
Dampak Psikis pada korban pelecehan seksual dapat mengalami efek psikologis yang signifikan. Nah, berikut ini beberapa dampak pada psikis yang umumnya terjadi. Korban akan merasakan mudah marah, merasa dirinya akan selalu tidak aman ketika menjalani sesuatu, mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, merasakan ketakuran, merasakan rasa malu yang sangat besar, mengalami syok, mengalami frustasi, menyalahkan diri atau mengisolasi diri sendiri, mengalami gangguan stress,mengalami depresi berat, disfungsi seksual, keluhan somatic, hingga keinginan untuk mengakhiri hidup. Kekerasan seksual dapat meninggalkan efek trauma yang sangat mendalam bagi para korban. Gangguan stress dan traumatis yang di alami oleh korban pelecehan atau kekerasan seksual dapat berupa sindrom kecemasan labilitas outonomik, ketidakrentanan emosional dan kilas balik dari pengalaman yang amat pedih baik fisik maupun emosi yang melampaui batas ketahanan oran biasa yang di sebut dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Menurut WHO, korban kekerasan seksual incest sangat berdampak pada kesehatan mental korban, sebab korban dan pelaku berada pada kesehatan mental korban, sebab korban dan pelaku berada pada lingkungan yang sama. Anak korban hubungan seks antara pria dan wanita saudara sekandung (Incest). Sangat rentan mengalami masalah mental akibat trauma dan gangguan psikologis, seperti depresi, fobia, dan mudah curiga terhadap orang lain dalam jangka waktu yang cukup lama. Setelah korban mengalami kekerasan seksual dan pelecehan seksual akan mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang ditandai dengan gejala, yaitu keinginan untuk mengakhiri hidup, peningkatan kecemasan, gelisah, kekhawatiran terhadap masa depan, bahkan kecendrungan untuk menjadi pelaku kekerasan seksual di masa depan. Pada kasus incest ini anak-anak akan mengalami dampak trauma psikologis yang lebih serius dan dalam jangka waktu yang Panjang.
Adapun beberapa dukungan sosial keluarga bagi anak korban kejahatan seksual, diantaranya yaitu :
- Adanya dukungan secara sosial dan emosional dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Memberikan peduli dan perhatian serta memberikan rasa kasih sayang seperti saling mendukung satu sama lain, menghargai satu sama lain, memberikan kepercayaan dan saling melindungi dengan menjadi bagian dari keluarga.
- Kelekatan atau ikatan emosional yang dimiliki satu sama lain dalam keluarga di karenakan adanya keterbukaan setiap anggota saling berbagi perasaan, jujur dan terbuka satu sama lain.
- Meningkatkan komunikasi dengan anak. Pola komunikasi yang berjalan efektif, terbuka, langsung, terarah, kongruen (sesuai antara verbal dan non verbal). Maka, dengan langkah ini akan terbentuk sikap keterbukaan, kepercayaan, dan rasa aman pada anak.
- Sikap positif yang dimiliki keluarga dalam memandang kehidupan termasuk memandang krisis dan permasalahan yang ada. bagaimana cara pandang mereka melihat bahwa selalu ada jalan keluar dari tiap-tiap permasalahan yang di hadapi oleh setiap manusia.
- Keterlibatan orang tua secara langsung terhadap proses penanganan kekerasan seksual yang dialaminya baik itu penanganan secara hukum maupun penanganan pemulihan dan penyesuaian secara psikologis, dan pergi ke layanan psikologis bagi korban maupun orang tua.
Tingginya kasus kejahatan seksual berupa kekerasan seksual dan pelecehan seksual yang terjadi pada remaja usia sekolah pada umumnya di karenakan bahwa anak merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan, tidak berdaya dan memiliki rasa ketergantungan yang tinggi pada orang-orang dewasa. Tak sedikit pula pelakunya adalah orang yang memiliki dominasi atas korban, seperti orang tua dan guru. Oleh karena itu, di perlukannya peran keluarga dalam memberikan dukungan sosial dan emosional, ikatan sosial, komunikasi, dan sikap positif dari keluarga terhadap anak yang menjadi korban maupun bukan menjadi korban. Hal ini sangat membantu agar anak merasakan aman dan terlindungi dari kejahatan seksual yang sedang marak terjadi. Selain itu, tidak hanya di perlukan dukungan dari keluarga saja, akan tetapi diperlukan dukungan dari peran aktif masyarakat, individu dan pemerintah. Hal ini akan mengurangi tindak kejahatan seksual pada lingkungan di sekitar kita. ***














