MARABAHAN, teladankalimantan.com- Petani di Desa Tabing Rimbah, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala (Batola) mengeluhkan kondisi air di sawah mereka terlalu dalam, sehingga menyebabkan kesulitan menanam padi.
‘Sudah tiga tahun ini air di sawah kami terlalu dalam, bahkan akibat banjir tahun 2020 lalu tata kelola air sulit dilakukan,” ujar Akhmad Beni, ketika ditemui di rumahnya, Senin (12/02/2024).
Akibat banjir tersebut, jelas dia, air di sawah mereka hingga saat ini sulit untuk atur atau dikelola.
“Akibat kedalaman air inilah kami kesulitan menanam padi,” terangnya.
Kondisi seperti ini, tambah Juhdi, dialami petani hampir se-Kecamatan Mandastana.
“Bahkan sampai ke Kecamatan Jejangkit kondisi seperti ini,” ucapnya.
Dia berharap, permasalahan tersebut segera diatasi, agar tanaman padi petani bisa produksi meningkat seperti dibawah tahun 2020 lalu.
“Kalau kondisi normal satu tahun musim tanam bisa menghasilkan 300 blek per hektar. Namun, kondisi air seperi ini paling banyak hasilnya dua sampai tiga karung saja per hektar,” terangnya.
Belum lagi padi petani terserang tungro, sambung dia, juga berakibat lesunya ekonomi masyarakat.
“Hampir 80 persen penduduk di sini bermata pencaharian sebagai petani,” tandas warga RT 08 Desa Tabing Rimbah.
Kemudian, papar dia, hal yang mendesak untuk segera diperbaiki saat ini adalah, menata air, agar petani bisa menanam padi tidak terendam air.(red)














